Foto diambil bulan November 2011 di Pantai Leato Gorontalo.
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »
Foto diambil bulan November 2011 di Pantai Leato Gorontalo.
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan disisiku
Takkan bisa mengantikanmu
Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu menjadi yang terbaik
Dan masih menjadi yang terbaik
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik
Dan masih jadi yang terbaik
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Penantian panjang
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya hanya untukku
Biarkan waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti
Cintaku padamu..
Ku tetap menanti
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
A I S H I T E R U~~~~~~~~~~~~~~~~~> Menunggu
Filed under: Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar »
Raindrops keep falling on my head
And just like the guy whose feet are too big for his
Bed, nothing seems to fit. These
Raindrops keep falling on my head
They keep fallin’
But there’s one thing I know, the blues they send to meet me
Won’t defeat me, won’t be long till happiness steps up to greet me
by:BJ Thomas
Filed under: Uncategorized | 1 Komentar »
Ditemani segelas susu jahe hangat, tiba-tiba saja jari jemari ini seolah ada yang menuntun untuk kembali menekan tombol power di Laptop membuka pintu rumah lama.
Yaaach….blog ini kadang tidak terurus, hanya sekali waktu saja aku menyambangi ketika aku sedang sendiri.
Blog yang merupakan rumah keduaku inilah yang selalu setia menemani ketika aku terhenyak dari hybernasi panjang dan susah untuk memulainya kembali.
Melihat ke depan jauh lebih baik daripada menoleh ke belakang.
Rangkain kata-kata sederhana namun mengandung arti yang sangat dalam dan bermanfaat kalau kita bisa menterjemahkan dengan kata-kata yang bijak.
Kehidupan…..tidak bisa terlepas dari tiga hal pokok yang selalu menyertainya.
KEMARIN, HARI INI, dan ESOK.
Ketiga hal tersebut selalu melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila kita mengartikan huruf “O” adalah sebagai “opportunity” atau kesempatan, maka tidak ada opportunity di hari kemarin (yesterday), tetapi hanya ada satu kesempatan pada hari ini (today), dan ada 3 lagi kesempatan di hari esok (tomorrow).
Dengan kata lain, melihat ke belakang atau ke masa lalu adalah hal yang sia-sia, sebab tidak ada manfaatnya.
Masa lalu tidak akan pernah bisa kita rubah. Tetapi memperbaiki diri dan menggunakan kesempatan yang ada pada hari ini adalah hal yang lebih baik. Yang jauh lebih baik dan jauh lebih bijaksana adalah menciptakan kesempatan untuk hari esok, karena di situ terbentang sangat banyak kesempatan untuk melakukan suatu KEBENARAN, dan KEBAIKAN yang akan menciptakan MANFAAT.
Tiga untaian kata yang kembali mempunyai arti yang sangat luas. Tiga kata itulah resep yang akan membuat orang bisa hidup dengan bijaksana. Tiga kata yang merupakan filter kehidupan.
Filter pertama adalah KEBENARAN. Dalam kehidupan kita, haruslah yakin bahwa apa yang kita fikirkan, kita katakan, dan kita lakukan adalah sesuatu yang benar. Jika ada sedikit saja yang diragukan kebenarannya, lebih baik kita tidak terlibat di dalamnya.
Filter kedua adalah KEBAIKAN. Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah baik dan membawa kebaikan. Karena kebenaran saja tidak cukup, tetapi kebenaran itu harus dikembangkan agar bisa membawa kebaikan bagi orang-orang yang mengamalkannya.
Filter ketiga adalah MANFAAT. Apapun yang kita katakan atau kita perbuat haruslah bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Segala hal yang tidak berguna harus dibuang jauh-jauh dari hidup kita agar tidak mengambat pertumbuhan kualitas kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita.
Jika kita bisa melaksanakan ketika filter kehidupan tersebut, maka seburuk apapun peristiwa yang kita alami di masa lalu, atau bagaimanapun sulitnya situasi yang kita hadapi saat ini, tidak akan membuat kita jatuh tergeletak.
Mungkin kita akan berkata “Saya punya banyak kelemahan dan banyak keterbatasan”. Itulah suatu kebenaran, namun jadikanlah keterbatasan itu menjadi kreativitas, dan kelemahan itu akan menjadikan ketergantungan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa.
Sebab kebenaran akan tetap bersinar meskipun teraniaya dan tidak populer. Kebenaran tidak perlu dibela karena dia mampu membela dirinya sendiri. Kebaikan akan tetap bernilai positif meskipun ada orang yang mencoba menodainya dengan motivasi yang jahat. Kalau yang kita lakukan itu bermanfaat, maka pasti ada lebih banyak orang yang diberkati daripada segelintir orang yang tidak menghargainya.
Semua duka di masa lalu bisa menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga supaya kita menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana, agar kita selalu melakukan kebenaran, membawa kebaikan, dan membawa manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.
Sebaliknya, semua pengalaman menyenangkan yang kita nikmati di masa lalu, harus bisa membuat kita semakin bersyukur, dan semakin rendah hati di saat ini, dan masa yang akan datang, karena sesungguhnya semua itu semata-mata adalah anugerah dari Sang Pencipta untuk makhluk ciptaan-Nya.
happy b’day my Corporate…….
Filed under: Motivasi, My Diary, Renungan Kehidupan | 1 Komentar »
Dalam suatu kisah diceritakan ada seorang saudagar kayu yang membuka lamaran pekerjaan seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena saudagar itu menjanjikan upah yang cukup besar dan berada dalam kondisi kerja yang sangat kondusif, adalah seorang yang melamar untuk menjadi pekerja penebang pohon itu, dan bertekat untuk bekerja sekeras mungkin.
Pada saat mulai bekerja, saudagar itu memberikan sebuah kapak kepada pekerja dan menunjukkan daerah kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si pekerja penebang pohon tersebut.
Pada hari pertama bekerja, dia berhasil menebang pohon sebanyak 10 batang pohon, melebihi target dari saudagar yang menargetkan 8 pohon perhari. Pada sore harinya saudagar mendapat laporan pekerjaan itu, sang saudagar terkesan dan memberikan pujian dengan tulus.
“Hasil kerja kamu sungguh luar biasa! Saya sangat terkesan dan kagum dengan kemampuanmu dalam menebang pohon itu. Belum pernah ada pekerja saya yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”Sangat termotivasi oleh pujian saudagar itu, keesokan harinya si pekerja mulai kembali menabang pohon dan bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya mampu menebang 8 batang pohon. Di hari ke tiga dia bekerja lebih keras lahi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan.
Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil ditebang oleh pekerja itu. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir pekerja itu merasa malu dan putus asa.
Dengan kepala tertunduk, dia menghadap sang saudagar, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai, bahkan semakin hari semakin mengecewakan, dan mengeluh apa yang telah terjadi. Sang saudagar menyimak dan bertanya kepadanya. “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari harus menebang pohon dari pagi sampai sore hari dengan sekuat tenaga,” kata si penebang pohon. “Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa.
Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang saudagar. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang pohon berlalu dari Hadapan saudagar itu dan mulai mengasah kapak. Istirahat bukan berarti berhenti. Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Sama seperti si penebang pohon, kitapun setiap hari, dari pagi sampai malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola.
Sibuk, sibuk, sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untul menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.
Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi lebih dinamis, berwawasan dan selalu baru.
Filed under: Motivasi, Renungan Kehidupan | 3 Komentar »