ENKRIPSI

pesawat enkripsi

Dari judulnya saja kita sudah tau ini berhubungan dengan komputer, tetapi jangan terburu-buru untuk menyimpulkan bahwa ini akan 100% membahas tentang ilmu komputer.

Ingat,bahwa ini saya tulis dalam kategori khayalanku.

Sebenarnya judul lengkapnya adalah “MUNGKINKAH MANUSIA DI ENKRIPSI…?”

Aneh khan judulnya, tetapi sebenarnya apa sih yang tidak mungkin di dunia ini kalau Allah menghendaki…?

Dulu sebelum ada era tehnologi informasi seperti ini, kalau orang akan menyampaikan berita kepada orang lain mengguakan perantara orang untuk menyampaikannya. Misalnya kirim surat dari Surabaya ke Jakarta, dulu mungkin sudah agak maju menggunakan sarana transportasi kendaraan. Setelah adanya teknologi komunikasi, maka surat tersebut tinggal kita tulis di HP atau komputer dalam hitungan detik sudah terkirim ke penerima. hal ini kita ketahui bahwa tulisan tersebut dienkripsi dulu baru kemudian diubah lagi jadi visual sehingga dapat terbaja oleh si penerima.

TETAPI mungkinkah manusia dienkripsi…? agar bisa melesat melebihi kecepatan cahaya..? Mengingat bumi ini kata orang-orang pinter udah mau rusak, dan sudah ditemukan Planet baru bernama SUPER BUMI, yang suhunya antara nol derajad C samapi 40 derajad C, sehingga dimungkinkan bisa untuk kehidupan di masa mendatang. Tetapi bagaimana caranya untuk menuju ke planet itu yang jaraknya sekitar 20 juta tahun cahaya(kalau saya tidak lupa baca koran).

KHAYALANKU berkata “mungkin saja kalau sudah tiba saatnya”  Perhatikan peristiwa Isra’ Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW.

Dari sisi ilmu komputer mungkin bisa dicontohkan dengan analogi dari prinsip-prinsip jaringan komputer sebagai berikut :  Protocol TCP / IP yang kita gunakan di Internet kita ibaratkan sebagai Buraq atau kendaraan yang dipakai oleh Nabi, sedangkan diri Nabi Muhammad sendiri adalah paket data (e-mail misalnya) yang akan kita kirimkan ke ujung belahan dunia lain (planet Muntaha). Melalui proses enkripsi, enkode dan dekode yang dikapsulkan (capsulated) di dalam protocol TCP / IP (Buraq), paket data (dalam hal ini Nabi) dapat melihat-lihat dan berjalan-jalan menelusuri jaringan Internet yang berbeda-beda dimensinya (disini kita ingat bahwa Nabi disebut-sebut banyak melihat-lihat pemandangan yang mencerminkan masa yang akan datang), lewat transmisi terrestrial (dimensi kabel, serat optik) kemudian di up link melalui transmisi satelit dan micro wave (dimensi radio link) hingga kembali ke bentuk dimensi asalnya teks di layar komputer (planet Muntaha), begitu juga sebaliknya. Untuk itulah kiranya bisa dimengerti kenapa sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj terjadi, Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh para Malaikat. Hal ini tidak lain sebagai suatu persiapan kondisi jasmaninya agar cukup dan mampu dalam menempuh penerbangan jarak jauh. Sebab jantung merupakan alat vital bagi manusia terutama dalam memacu peredaran darah yang mana jantung ini bekerja tanpa henti-hentinya sejak dari kandungan sampai dengan akhir hayatnya. Sepasang dokter Amerika yang terdiri dari suami istri, Dr. William Fisher dan Dr. Anna Fisher  mengatakan bahwa perkembangan ilmu kedokteran antariksa tengah memfokuskan penyelidikannya sehubungan dengan pembuluh darah jantung para astronot dan kondisi-kondisi tulang yang makin lemah setelah lama dalam ruang angkasa, ini membuktikan kebenaran dari peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril. Dalam peristiwa pembedahan dan pembersihan jantung Nabi sebelum Mi’raj kiranya merupakan gambaran adanya pengertian bagi manusia umumnya untuk mempelajari ilmu kedokteran khusunya dalam bidang bedah dan anatomi serta ilmu kedokteran antariksa. Dan ternyata kemudian bedah jantung ataupun pencangkokan jantung dan ilmu kedokteran antariksa oleh para ahli mulai diperkenalkan pada abad dua puluh.

Mengenai kecepatan cahaya sendiri, al-Qur’an sudah memberikan contoh melalui perjalanan malaikat menuju kehadirat-Nya dalam ayat berikut :

 Naik malaikat-malaikat dan ruh-ruh kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun – Qs. 70 al-Maarij : 4 Ukuran waktu dalam ayat diatas disebutkan angka 50 ribu tahun sebagai rentang waktu yang menunjukkan betapa lamanya waktu yang diperlukan penerbangan malaikat dan Ar-Ruh untuk sampai kepada Tuhan. Namun bagaimanapun juga ayat itu menunjukkan adanya perbedaan waktu yang cukup besar antara waktu kita yang tetap dibumi dengan waktu malaikat yang bergerak cepat diluar angkasa, dalam bahasa modern kita bisa menjelaskan bahwa waktu untuk seseorang yang berada dibumi berbeda dengan waktu bagi orang yang ada dalam pesawat yang berkecepatan tinggi. Perbedaan waktu yang disebut dalam ayat diatas dinyatakan dengan angka satu hari malaikat berbanding 50.000 tahun waktu bumi, perbedaan ini tidak ubahnya dengan perbedaan waktu bumi dan waktu elektron, dimana satu detik bumi sama dengan 1.000 juta tahun elektron atau 1 tahun Bima Sakti sama dengan 225 juta tahun waktu sistem solar. Jadi bila malaikat berangkat jam 18:00 dan kembali pada jam 06.00 pagi waktu malaikat, maka menurut perhitungan waktu dibumi sehari malaikat sama dengan 50.000 tahun waktu bumi. Dan untuk jarak radius alam semesta hingga sampai ke Muntaha dan melewati angkasa raya yang disebut sebagai ‘Arsy Ilahi, 10 Milyar tahun cahaya diperlukan waktu kurang lebih 548 tahun waktu malaikat. Namun malaikat Jibril kenyataannya dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad Saw itu hanya menghabiskan waktu 1/2 hari waktu bumi (maksimum 12 Jam) atau sama dengan 1/100.000 tahun Jibril. Contoh lain yang cukup populer, yaitu paradoks anak kembar, ialah seorang pilot kapal ruang angkasa yang mempunyai saudara kembar dibumi, dia berangkat umpamanya pada usia 0 tahun menuju sebuah bintang yang jaraknya dari bumi sejauh 25 tahun cahaya. Setelah 50 tahun kemudian sipilot tadi kembali kebumi ternyata bahwa saudaranya yang tetap dibumi berusia 49 tahun lebih tua, sedangkan sipilot baru berusia 1 tahun saja. Atau penerbangan yang seharusnya menurut ukuran bumi selama 50 tahun cahaya pulang pergi dirasakan oleh pilot hanya dalam waktu selama 1 tahun saja. Dari contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa jarak atau waktu menjadi semakin mengkerut atau menyusut bila dilalui oleh kecepatan tinggi diatas yang menyamai kecepatan cahaya. Kembali pada peristiwa Mi’raj Rasulullah bahwa jarak yang ditempuh oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dengan Buraq menurut ukuran dibumi sejauh radius jagad raya ditambah jarak Sidratul Muntaha pulang pergi ditempuh dalam waktu maksimal 1/2 hari waktu bumi atau 1/100.000 waktu Jibril atau sama dengan 10 pangkat -5 tahun cahaya, yaitu kira-kira sama dengan 9,46 X 10 pangkat-23 cm/detik dirasakan oleh Jibril bersama Nabi Muhammad (bandingkan dengan radius sebuah elektron dengan 3 X 19 pangkat -11 cm) atau kira-kira lebih pendek dari panjang gelombang sinar gamma. Nah, istilah berkah yang disebut dalam surah al-Israa’ ayat satu menurut pendapat penulis merupakan penjagaan total yang melindungi Nabi Muhammad didalam kendaraan Buraqnya dari berbagai bahaya yang dapat timbul baik selama perjalanan dari bumi atau juga selama dalam perjalanan diruang angkasa, termasuk pencukupan udara bagi pernafasan Rasulullah selama itu dan lain sebagainya. Jika kita sudah terbiasa menonton film Star Treks, Star Wars, Babilon V atau juga Independence Day (ID4) maka tidaklah sukar kiranya untuk memahami peristiwa yang dialami oleh Nabi dalam kisah Isra’ dan Mi’raj tersebut. Manusia sekarang ini sudah mampu mengkhayal kecanggihan yang demikian luar biasanya dalam film-film fiksi ilmiah dan ini sebenarnya adalah ilham yang sudah diberikan Allah kepada kita agar kelak kitapun harus dapat merealisasikannya secara nyata. Dan, perjalanan Nabi Muhammad yang masih dianggap fantastis dan ghaib ini bukan satu-satunya hal yang pernah terjadi dalam sejarah kenabian, didalam al-Kitab tepatnya pada Perjanjian Lama kita juga bisa membaca bahwa Nabi Yehezkiel (salah seorang Nabi Israel yang oleh sementara cendikiawan Islam diduga sebagai Nabi Zulkifli)  pernah melakukan perjalanan yang serupa hanya saja beliau tidak sampai menjelajah keluar angkasa. Berikut petikan kisahnya : Dalam tahun kedua puluh lima sesudah pembuangan kami, yaitu pada permulaan tahun, pada tanggal sepuluh bulan itu, dalam tahun keempat belas sesudah kota itu ditaklukkan, pada hari itu juga kekuasaan TUHAN meliputi aku dan dibawa-Nya aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke tanah Israel dan menempatkan aku di atas sebuah gunung yang tinggi sekali. Di atas itu di hadapanku ada yang menyerupai bentuk kota.  Ke sanalah aku dibawa-Nya. Dan lihat, ada seorang yang kelihatan seperti tembaga dan di tangannya ada tali lenan beserta tongkat pengukur; dan ia berdiri di pintu gerbang.  Orang itu berbicara kepadaku: ‘Hai anak manusia, lihatlah dengan teliti dan dengarlah dengan sungguh-sungguh dan perhatikanlah baik-baik segala sesuatu yang akan kuperlihatkan kepadamu; sebab untuk itulah engkau dibawa ke mari, supaya aku memperlihatkan semuanya itu kepadamu. Beritahukanlah segala sesuatu yang kaulihat kepada kaum Israel’. Perjanjian Lama : Kitab Yehezkiel 40 : 1 – 4  Dalam ayat diatas kita mendapat gambaran, bahwa Nabi Yehezkiel atas kehendak dari Allah serupa dengan kejadian Nabi Muhammad yang bukan atas keinginan pribadinya- telah diperjalankan dari tempatnya semula menuju kesuatu gunung yang sangat tinggi dan dari atas gunung itu Yehezkiel mampu memandang keseluruhan kota secara leluasa. Pada ayat lain dari kitab Yehezkiel, kita juga akan menemukan bahwa kemungkinan Buraq juga sudah pernah diturunkan oleh Allah melalui malaikat-Nya pada jaman kenabian Yehezkiel dan mungkin pesawat yang memiliki kecepatan diatas cahaya ini juga yang telah membawanya keatas sebuah puncak gunung yang tinggi itu. Datanglah firman TUHAN kepada imam Yehezkiel, anak Busi, di negeri orang Kasdim di tepi sungai Kebar, dan di sana kekuasaan TUHAN meliputi dia.  Lalu aku melihat, sungguh, angin badai bertiup dari utara, dan membawa segumpal awan yang besar dengan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar; di dalam, di tengah-tengah api itu kelihatan seperti suasa mengkilat. Dan di tengah-tengah itu juga ada yang menyerupai empat makhluk hidup dan beginilah kelihatannya mereka: mereka menyerupai manusia. Perjanjian Lama : Kitab Yehezkiel 1:3-5 Terlepas sejauh mana kepercayaan kita pada apa yang disampaikan didalam kitab Perjanjian Lama tersebut, setidaknya secara obyektif kita memiliki satu parameter perbandingan dengan kisah-kisah yang ada didalam Islam.

3 Tanggapan

  1. sesuatu nyang dulunya disebut takahyul, kini telah bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. peridtiwa isra miraj yang anda gambarkan dengan “masuk melwari jaringan internet” , mungkin sebagai salah satu gambarannya. suau saat mungkin akan ketemu jawabannya, termasuk bagaimana mkengetahui kehidupan sesuadah mati.
    tapi entahlah…….walaupun kadang berfikir bisa, karena ayat yang pertama saja berbunyi: iqra: bacalah, berfikirlah….yang itu jelas rasional, dan dengan menggunakan prindip-prinsip ilmiah….

    ===
    @ tinggal tunggu waktu mas….ternyata pesawat canggih udah ada sejak jaman sebelum Masehi. Terbukti di peninggalan-peninggalan si Mesir. Kapan-kapan tak posting gambarnya

  2. Subhanallah,
    maha benar Allah yang telah menurunkan ‘firmanya’/’Al Quran’ melalui AL Jibril AS (sebagai Pembawa/Carier), Kepada Rasulullah SAW (Qolbunya Muhammad SAW bin Abdullah).
    Sepertinya ini adalah suatu proses transfer energi HAQ yang tiada duanya, yang hanya bisa turun kepada Qolbun mukminin.
    dan setiap manusia pun wajib memiliki apa yang dinamakan ‘Wasilah’. untuk sampai kepada penciptanya yang secara fisik dan dimensi sangat sangat jauh. Yang perlu diingat bahwa Wasilah ini bukanlah manusia, jin bahkan Malaikat sekalipun. dan Wasilah ini hanya diberikan kepada PAra Kekasihnya.Wasilah ini mempunyai Frekuensi tak terhingga yang terbit langsung dari sisi ALLAH. dan wasilah inilah yang berfungsi sebagai Carier/pembawa (baca buku tentang telekomunikasi radio)yang akan membawa sinyal informasi/masage/doa/sholat dll ke hadirat ALLAH. tanpa wasilah ini maka pesan kita hanya sampai di angan angan saja.
    Mari kita sama sama berjuang dan mencari unsur yang tak terhingga ini, yang berada dalam dada para Rosul, dan ‘penerusnya’.
    ini adalah super super teknologi,
    “kalau orang membicarakan tentang rasa jeruk, maka otak/memori kita akan mengirimkan informasi berupa rasa jeruk, kepada jiwa kita dan jiwa seakan merasakan rasanya jeruk. Dan ini tidak akan dialami oleh orang yang belum pernah makan jeruk sama sekali”
    Semoga bermanfaat
    Wallahualam bissowaf…

    ===
    @ Thanks udah mampir ke blog saya, sayangnya Saudara tidak meninggalkan Blog anda, sehingga saya tidak bisa balik berkunjung.

  3. Ilustrasi yang bagus, pengandaian protokol tcp/ip.
    tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: