Kenangan Gempa 27 Mei 2006

Kenangan Gempa 27 Mei 2006 

Ketika musibah gempa mengguncang daerah
Jogjakarta dan Jawa tengah setahun silam, yang memporak-porandakan banyak sekali rumah-rumah, dan infrastruktur pemerintah,juga ribuan nyawa melayang karena akibat dari gempa tersebut, ada kenangan tersendiri dalam hidup saya.

Ketika itu tanggal 19 Mei 2006 saya mendapat tugas dari kantor untuk diklat di
Surabaya selama kurang lebih setengah bulan.

Pagi itu tanggal 26 Mei 2006 seperti biasa, saya mandi dan selesai jam 06.00 pagi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, salah satu teman saya berkata eh…barusan ada gempa. Terasa apa enggak…? Saya memang tidak merasakan gempa, karena memang sangat kecil untuk terasa sampai
Surabaya. Terbersit di benak saya, Aduh… Gunung Merapi meletus neh…pikir Saya.

Langsung saya ambil HP saya untuk mengkonfirmasi perasaan saya tersebut ke keluarga di Jogja, ternyata saluran terputus total. Semua keluarga saya hubungi, Isteri, orang tua, adik, bahkan telepon rumahpun tidak tersambung.
Ada apa ini…. saya mulai panik. Kemudian saya telfon kembali teman saya yang berada di Jogja
kota, ternyata tersambung dan aku tanya memang Gempanya terasa amat besar. Hanya saja teman saya belum tahu dimana pusat gempa berada.

Saya masih terus mencoba untuk menghubungi semua keluarga, ternyata memang masih off semua.

Selang setengah jam kemudian Bapak saya berhasil menghubungi saya lewat HP nya, beliau memberitakan kalau ada gempa yang dahsyat, dan rumah-rumah pada roboh. Astaghfirullaah….banyak sekali rumah roboh di daerah asal saya, juga banyak orang-orang yang tertimpa bangunan dan akhirnya meninggal saat itu juga.

Aku minta tolong agar bapak saya menengok keluarga saya yang berada di lain daerah dari tempat tinggal orang tua saya. Aku masih terus mencoba menghubungi, akhirnya bisa tersambung sebentar sekali dengan isteri saya, dia mengabarkan kalau sedang mengungsi di lapangan bersama anak-anak dan tetangga saya karena ada isyu mau ada tsunami( Daerah saya kira-kira 3 Km dari pantai selatan ).

Pikiran saya kacau pada waktu itu. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke jogja sorenya, setelah melihat pemberitaan di semua stasiun TV menayangkan keadaan di Jogja, ketika saya lihat ada anak kecil sebaya anak saya lsekitar 4 tahunan yang berlumuran darah karena tertimbun reruntuhan, saya langsung menghubunhi agen-agen penerbangan ke Jogja, ternyata semua pesawat tidak ada yang bisa mendarat di Bandara Adisucipto Jogja, aku putuskan naik kereta sore itu.

Singkatnya, ketika saya sampai di jogja sekitar jam sebelas malam, saya pulang dengan Taxi dan sepertinya Jogja menjadi kota mati, tidak ada penerangan sama-sekali, bangunan-bangunan di kanan kiri yang saya lewati banyak sekali yang roboh.

Jam dua belas saya ketemu orang tua saya, dan Alhamdulillaah, Ayah, ibu, Adik, saya selamat. Saya langsung ambil mobil saya yang saya titipkan di rumah orang tua saya dan saya langsung memacu menuju ke daerah tempat saya tinggal beserta anak isteri saya. Ketika saya sampai, mereka baru mengusngsi bersama dengan tetangga-tetangga yang lain, tak terasa air mata ini mengalir melihat Isteri saya yang sedang mengandung lebih kurang 8 bulan, bersama anak saya Reza yang berumur 4.5 tahun, semuanya lengkap, semuanya selamat. Alhamdulillaah……Ketika isteri saya menceritakan bahwa pagi   itu, sambil menggendong anak pertama saya dia berusaha keluar dari reruntuhan bangunan ketika terjadi gempa. 

Yaa ALLAH…….. hamba mengucapkan syukur kepada Engkau, karena telah menjaga keluarga hamba dari ganasnya gempa 27 Mei 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: