Dona I

Semua tokoh, karakter dalam tulisan ini apabila ada kesamaan, mohon maaf. Bukan berarti anda yang saya maksud. Sore tadi aku dapet sms yang isinya begini: “Ollouuuw……! Gimana kabar? Inget aku nggak?”Wah dari nomernya aku nggak tahu neh. Nggak ada di memori. Aku bales “Neh siapa…?”Tak lama kemudian dia bales lagi sebut ajha namanya “Dona….!”(mohon maaf kalau ada sekiranya pembaca yang mempunyai nama yang sama)Aku jadi teringat peristiwa lalu yang bagi aku merupakan hal yang nggak bakal lupa. Begini neh kisahnya.Ketika itu aku sedang isi bensin di sebuah pom bensin di Jogja, dan aku lihat ada dua orang cewek, yang salah satunya sedang telfon di telfon umum,biasalah cowok kalau lihat cewek cakep pasti ngelirik dan pengin kenal(dasar buaya gunung). Singkatnya aku kenalan tuh sama si cewek. Namanya Dona, dan masih sekolah di salah satu SMA di Jogja. Namanya juga dapet teman baru, kami sering ketemu dan dia juga sering telfon aku, waktu itu HP masih jarang, jadi dia selalu telfon ke rumah. Seiring jalannya waktu sering dia cerita dan curhat masalah pribadinya. Dia mulai bercerita tentang kepindahannya dari SMA nya yang di Jogja ke sebuah SMA di daerah Kabupaten. Dona mengakui kalau dia termasuk Bengal di sekolahnnya. Sering bolos sekolah hanya karena pengin jalan jalan ke Malioboro bersama teman-temannya. Preman ceweklah dia nyebutnya. Orang tuanya sengaja memindahkan dia dari sekolah di kota karena pergaulannya yang mulai nggak bener. Pernah dalam suatu pertemuan kami, Dona menceritakan tentang kesulitannya membayar uang SPP karena uang yang sudah diberikan oleh orang tuanya dipinjamkan ke temannya untuk biaya rumah sakit ibu dari temannya itu. Memang sih aku nggak langsung percaya. Sebagai teman, kalau aku bisa membantu, tak ada salahnya kan. Aku coba cek temennya itu dan ternyata bener ibunya sedang sakit, dan memang bener biaya SPP Dona dipakai untuk berobat.(Pada dasarnya hati nurani Dona baik ya). Waktu itu aku masih kuliah juga, tapi sambil kuliah aku dah dikit-dikit bisa cari uang dengan kerja part time di salah satu perusahaan Asuransi Kesehatan, sebagai entry data. Lumayan sih, bisa buat tambah uang saku yang oleh orang tuaku sengaja di pepet bangget biar akunya nggak cuman dolan terus. Jadilah aku bayar tuh SPP tanpa ada maksud apapun kecuali ikhlas menolong sebagai teman yang sedang kesusahan, karena kalau SPP tidak dibayar, Dona nggak bakal bisa ikut ujian.Waktu berlalu, hingga Dona pun lulus ujian, dan persahabatan kamipun tetep terjalin. Suatu ketika aku naksir seorang cewek,(dasar buaya tenanan apa yach..?) sebut saja namanya Neta.Memang bener-bener naksir, nggak cuman temen. Hanya saja mungkin Tuhan belum mengijinkan aku untuk punya pacar. Karena tanpa sepengetahuanku ternyata antara Dona dan Neta adalah teman akrab. Whalaah apa jadinya, karena ternyata masing-masing dari mereka mengklaim bahwa aku adalah pacarnya. Dona marah-marah denganku, apalah artinya perhatian yang selama ini aku berikan kalau aku bukan pacarnya katanya. Ya aku cuman santai ngejawabnya, memang aku pernah bilang cinta ke kami Dona? Enggak khan…! Dari awal kita sudah sepakat untuk menjadi sahabat saja, tidak lebih, tetapi kamu sendiri yang mengartikan lain. Pokoknya persahabatan kami menjadi renggang gara-gara masalah itu. Dan Netapun nggak mau mengecewakan sahabat karibnya, sehingga hubungan kamipun kacau-balau bubar jalan sebelum terjalin.Semenjak itu aku jarang mengetahui kabar Dona, hingga pada suatu waktu Dona kembali meneleponku mengajak untuk bertemu, karena sedang ada masalah berat katanya. Kamipun ketemu di rumah makan. Panjang lebar dia bercerita kalau Dona sudah mempunyai pacar, akan tetapi pacarnya amat pencemburu, hingga kadang tega menampar Dona kalau cemburunya lagi kambuh. Dona memintaku agar menjelaskan permasalahan persahabatan kami dulu memang benar-benar hanya sebatas sahabat, bukan pacar atau yang lain. Sulit memang untuk menjelaskan kepada sesama cowok akan hal ini. Aku yakin kalau ini aku lakukan, justru pacarnya yang sebut saja namanya Joko, pasti akan kalap dan semakin kurang ajar terhadap Dona. Akhirnya Donapun memahami kesulitanku itu. Waktu terus berlalu, dan aku juga tidak ingin mengusik hubungan mereka, hingga kembali di suatu waktu Dona meneleponku dengan tangisan(Payah………) untuk bertemu, tetapi aku tolak karena memang aku tidak mau ikut campur masalahnya lagi(Sahabat macam apa aku ini). Tetapi masalah Dona kali ini mungkin amat berat, hingga dia nekat datang ke rumahku dengan tangisnya. Gila….kamu nekat kesini, nangis lagi, emangnya ada apa..? tanyaku. Dona tidak bersedia bercerita di rumah,akhirnya kami keluar dan kembali dia bercerita tentang hubungannya dengan Joko pacarnya itu.Dona menceritakan tentang tabiat Joko yang suka mabuk-mabukan,suka main kasar. Bahkan pernah Joko overdosis hingga tidak sadar selama tiga hari dan Donalah yang setia merawatnya di Rumah Sakit. Hingga  pada suatu saat dalam acara ulang tahun temannya, Donapun diajaknya menghadiri dan memang seperti kebiasaan Joko yang suka mabuk-mabukan, dipaksalah Dona untuk ikut minum . tetapi Dona menolak, hingga dalam keadaan setengah sadar, Joko pun akan memaksa Dona untuk melayani nafsu bejatnya. Dona mau diperkosa di acara ulang tahun temannya itu. Dona meronta dan berlari keluar sambil menangis hingga  ada sebuah mobil taxi yang lewat, berhenti dan menolongnya. Sopir taxi tadi bertanya kepada Dona kenapa menangis, dan Dona menceritakan kejadian yang hampir saja dialaminya., hingga dia diantar oleh sopir taxi tersebut kerumahnya. Malang benar nasibmu Dona, punya pacar yang begitu jahat terhadapmu. Dia kembali mengusap air matanya sambil meminta saran kepadaku untuk selanjutnya harus berbuat apa. Aku Cuma bilang Putus ajha Dona, cari cowok lain yang baik-baik masih banyak(tetapi jangan aku maksudnya). Trus aku harus bagaimana…? Padahal aku benar-benar mencintai Joko. Wuaduuuh berat dech kalo’ gitu, kataku. Terserah kamu ajhalah, yang jelas menurutku Joko nggak baik buat kamu. Dia berkata lagi, Cuma kamu yang bisa nggantikan Joko di hatiku(Cilemet….payah bener. Rejeki apa musibah neh). Tetapi tetep aku beri pengertian ke Dona, bahwa aku belum siap untuk punya pacar. Akhirnya kami berpisah kembali waktu itu, dan aku jalani hidupku dengan kesendirianku alias nge jomblo. Aku nggak mau memanfaatkan kesusahan orang lain, dan aku tidak mau pacaran titik. Pacaran identik dengan perbuatan tidak senonoh.(kata orang-orang).Akan tetapi ternyata Tuhan masih selalu saja mempertemukan aku dengan Dona, ketika dia kembali menghubungiku untuk bertemu, dan kali ini tangisnya semakin parah. Dona ternyata kembali pacaran dengan Joko, walaupun hampir saja diperkosanya. Payah bener anak ini gumamku. Dan kali ini bener-bener kejadian hebat yang dia ceritakan kepadaku. Gila…..memang gila bener. Dona sudah berbuat intim dengan Joko bukan lagi dipaksa, tapi atas dasar kemauan masing-masing. Astaghfirullah….Dona. Kamu memang nekat bener. Trus maumu apa dengan terus mendatangiku? Tanyaku. Dia hanya bercertita sambil air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. Ketika Dona akan kembali ke Joko, ternyata Joko mengajukan opsi gila-gilaan. Joko mau menerima Dona kembali asalkan Dona mau diajak berhubungan intim. Dasar laki-laki Bajingan…..! kataku. Dan Donapun ternyata menerima opsi Joko tersebut dengan satu syarat, harus pake SARUNG KARET. Edan bener mereka, dan kenapa juga aku yang jadi sumber curhat masalah ini. Dona mengakui, kalau Joko sering berbuat seperti itu, sampai akhirnya pada suatu hari dalam keadaan setengah teller Joko kembali minta jatah kepada Dona, dan untuk kali ini ternyata mereka kehabisan stock sarung karetnya, dan terjadilah sesuatu yang terlalu tabu untuk ditulis di blog ini. Dalam kegalauan dan kecemasan Dona, akhirnya perbuatan itu sampai juga di telinga orang tua masing-masing. Runyam bener kehidupan mereka. Dona begitu khawatir dengan perbuatan terakhirnya dengan Joko, hingga Dona takut sekali kalau-kalau sampai hamil. Kemudian pihak keluarga Dona berniat untuk menuntut agar Joko menikahi Dona secepatnya. Tetapi ternyata seperti kejadian-kejadian di Koran-koran dan majalah, Joko dan keluarganya menolak dengan keras. Joko tidak bertanggung jawab sedikitpun. Aku Tanya kepada Dona, apakah sudah periksa Dokter…? Katanya belum, tetapi berdasar sedikit pengetahuanku tentang masalah reproduksi, aku coba Tanya ke Dona tentang semua hal yang telah dia lakukan dengan Joko. Mulai dari kapan berhubungan,berapa kali,dimana saja, dan kapan terakhir Dona menstruasi, aku Tanya semuanya. Awalnya Dona ragu-ragu untuk menceritakan. Tetapi akhirnya dia bersedia menceritakan semuanya(Saya memang kurang ajhar juga nanya-nanya sampai segitu detailnya). Akhirnya bisa aku tarik kesimpulan bahwa “Kamu nggak hamil Dona..!” Dia heran, kenapa saya bisa tahu. Walaupun bukan hal yang aneh dan sulit untuk menghitung sistim reproduksi ini. Tapi lebih akuratnya coba kamu test atau periksa ajha ke dokter, kataku. Ternyata benar dia nggak hanil, tetapi bisa kita bayangkan betapa hancurnya hati,jiwa seorang gadis manakala kehormatannya sudah direnggut orang yang tidak mau bertanggung jawab. Saya termasuk orang yang mengecam segala jenis tindak kekerasan terhadap wanita, walaupun saya seorang laki-laki….saya mendukung kalau memang bener-bener perkosaan, saya sangat setuju sekali kalau  ada hukum yang layak adalah potong BURUNG……….*red)Dalam kehancuran hatinya, Dona lari dari rumah dan tidak mempunyai tujuan yang pasti. Dona ketika itu sampai putus asa untuk melanjutkan hidup di dunia ini. Dona berusaha mengakhiri hidupnya dengan cara terjun dari jembatan layang di daerah Lempuyangan Jogjakarta. Gila bener neh anak, syetan sudah merasuk dalam tubuhnya hingga Dona nekat akan melakukan tindakan yang amat sangat bodoh tersebut. Ternyata Tuhan masih belum mengijinkan Dona untuk bunuh diri. Ketika Dona akan melompat terjun, ada seorang laki-laki tua yang menolongnya. Seminggu Dona disuruh tinggal di rumahnya hingga orang itu menyarankan utnuk memasukkan Dona ke salah satu pondak Salaf di Jogjakarta,atas persetujuan orang tuanya. Akhirnya Dona masuk di pondok itu untuk membenahi jalan hidupnya yang sudah rusak. Sebulan, sudah berlalu, hingga akhirnya masuk di bulan ke dua ternyata Dona tidak tahan berada di pondok tersebut, karena tiap malam harus selalu bangun untuk melakukan Sholat tahajud, dan berdzikir sampai sekian ribu tiap malam. Dona pergi dari pondok salaf tersebut entah kemana………….(to be Continued at Dona II………!)      

4 Tanggapan

  1. Setuju…pemerkosaan memang sangat kejam. Dan parahnya saat ini banyak sekali pemerkosaan yang dilakukan secara halus.

  2. […] Sebelum baca Dona II, sebaiknya baca dulu kisah Dona I, yang mana kisah terakhirnya adalah ketika Dona pergi dari Pondok salaf di […]

  3. Dona…dona *antri pertama untuk motong burungnya jokoaa**uck)

  4. @deking
    kalau halus berarti nggak dipaksa Mas…?

    @regsa
    Antrian berikutnya nggak kebagian donk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: