Oom…bapakku koq masih belum pulang?

Itulah pertanyaan yang sering aku dengar dari seorang bocah kelas 4 SD,setiap aku sekeluarga datang mengunjunginya. Bingung aku harus menjawab bagaimana. Dengan berbagai macam alasan kebohonganpun aku jawab untuk membesarkan hatinya. Mungkin itulah dampak dari jawabanku setahun yang lalu ketika dia bertanya tentang bapaknya.

Waktu itu dengan alasan membesarkan hatinya juga aku jawab, bahwa bapakmu sedang bekerja di tempat yang jauh sehingga tidak bisa tiap hari pulang.Bocah perempuan yang telah ditinggal mati bapaknya ketika masih kelas satu SD. Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini? Akankah aku selalu dan akan selalu berbohong dengan anak kecil yang begitu mengharapkan kehadiran bapaknya yang sudah tiada? Seperti apa yang dibilang adekku(Huuzzzz)  tentang pertanyaan retoris. Berat memang untuk berkata jujur saat ini. Sebut saja namanya Dhita, bocah mungil yang cerdas yang telah menjadi salah satu dari anak-anakku yang lain. Dhita adalah satu diantara tiga anak-anak kecil yatim yang baru setahun ini menjadi bagian dari keluargaku. Aku sebut bagian karena sejak setahun yang lalu Dhita aku angkat sebagai anak asuhku walaupun secara tidak resmi. Aku mengatakan tidak resmi karena Dhita tetap tinggal bersama ibunya di suatu kampung di daerah Jogjakarta. Kasih sayangpun tidak bisa aku berikan selayaknya anak-anakku yang tiap pagi sebelum berangkat jadi kuli dan sore setelah pulang kerja selalu menghambur minta digendong dan dipeluk. Aku hanya bisa menyisihkan sedikit dari rizki yang telah diberikan Allah kepadaku untuk Dhita dan dua saudaranya yang sama-sama kehilangan bapaknya. Mereka berasal dari keluarga yang miskin, hingga untuk mencukupi kebutuhan sehari-haripun menurutku terasa berat. Untunglah anak-anak itu adalah anak yang pandai. Iffah, yang sekarang sudah menginjak kelas tiga sebuah SMP mendapatkan beasiswa dari sekolahnya karena prestasi yang dia dapat. Memang iffah lebih dewasa dibanding dengan yang lainnya. Tiga tahun lalu ketika  Iffah aku masukkan dalam daftar aliran rizkiku, dia sudah kelas enam SD, dan memang dia sudah mengetahui kalau bapaknya sudah meninggal. Satu lagi Siti, bocah yang juga senasib dengan Dhita dan Iffah, dia sekarang kelas 6 SD. Anak ini tergolong standart alias nggak pinter-pinter amat. Siti inilah yang pertama aku ambil sebagai salah satu anak yang menurutku berhak untuk dibantu. Pertama aku bisa cari duit, sekitar 7 tahun yang lalu.Tetapi karena setahun yang lalu ibunya sudah menikah lagi maka aku anggap Siti sudah ada yang ikut memperhatikan. Jadi sekarang tinggal Dhita dan Iffah yang masih aku perhatikan, terutama untuk kebutuhan sekolahnya.Aku hanya bisa membantu untuk urusan yang ada hubungannya dengan kebutuhan sekolahnya saja, bukan kebutuhan yang lain, walau sekali waktu baju baru untuk mereka juga tetap aku perhatikan. Kadang dilematis juga yang aku rasakan. Masalahnya aku selalu memungut anak perempuan yang statusnya yatim alias ditinggal mati bapaknya, alias anak dari seorang janda. Pernah juga ada tetangga yang menggunjing tentang apa yang aku lakukan itu.Tapi biarlah, dasarnya aku cuek, jadi biarin ajha anjing menggonggong(inilah kata-kataku kalau baru jengkel).Yang menjadi prinsip utamaku kenapa yang aku pilih adalah anak perempuan dan statusnya yatim, bagiku adalah semata-mata seorang perempuan adalah asset yang sangat berharga(jangan negative thingking dulu ya). Aku menganggap setiap jengkal dari tubuh seorang perempuan adalah sangat berharga. Apalah jadinya karena dengan alasan ekonomi kemudian rela menyewakan setiap jengkal dari tubuhnya untuk para juragan hidung belang? Aku paling tidak tega kalau melihat perempuan selalu bokek. Buruk sangkaku-pun mungkin sungguh terlalu. Wadhuuh….kalau sampai si anu begini-begini bagaimana neh. Bagiku seorang anak perempuan adalah mutiara yang memang perlu dimanja. Berbeda dengan laki-laki. Aku bercermin pada diriku sendiri, laki-laki harus lebih kuat untuk bertahan(hidup). Justru laki-laki bagiku harus terbiasa hidup dengan kondisi ke-bokek-an. Hal ini mungkin terinspirasi dengan keadaanku dulu ketika masih kecil dan ketika sekolah hingga kuliah selesai(sekarang juga sering bokek ding).Seorang cowok yang bokek nggak bakal laku “dijual”, jadi menurutku masih aman-aman saja. Biar kalau laki-laki harus hidup dengan kerasnya dunia ini.Itulah mengapa aku lebih memilih menyantuni anak-anak perempuan yatim dan bukannya anak laki-laki dan piatu. Aku hanya tidak ingin dhita dan iffah menjadi anak jalanan, dan aku juga tidak ingin mereka dihidupi dari hasil kerja nggak bener ibunya.Yach…mereka sudah aku anggap bagian dari roda perjalanan hidupku. Merekalah yang membuat aku selalu merasa kecukupan hidup di dunia ini. Merekalah yang membuat hidupku tidak semata-mata untuk mengejar materi. Di depan merekalah aku merasa sangat kaya(mode sombong on), hingga untuk selalu berlomba-lomba mencari harta dunia bukan lagi merupakan tujuanku.Aku bangga dengan anak-anakku dan mereka. Dan terhadap anak-anakkupun selalu aku tanamkan untuk selalu dekat dengan mereka, agar tidak sewenang-wenang di kemudian hari. Jujur saja sekarang mulai ada ganjalan dalam benakku untuk mengakhiri santunan terhadap Iffah, karena dia tidak lama lagi menginjak Bangku SMU. Mungkin untuk biaya sekolahnya aku masih mampu. Tetapi anak yang sudah masuk bangku SMU adalah sudah menginjak dewasa, nah ini mungkin akan jadi cobaan berat bagiku. Aku tidak mau dianggap ada pamrih dengan anak SMU oleh orang-orang sekitarku. Cuek sich cuek, tapi kalau kebangeten bisa bikin adrenalinku bergerak cepat dan bisa-bisa tanpa basa-basi, Bruak….ploxkk..ploxxk. Nggak tahulah besok bagaimana.Kembali ke Dhita, anak kecil yang selalu aku bohongi ini disaping cerdas juga punya jiwa wirausaha yang bagus. Maksudku dia nggak malu sambil sekolah bawa gorengan untuk dititipkan ke mbok kantin sekolahnya. Kasihan memang, dan pernah ibunya aku larang untuk tidak menyuruh Dhita ke sekolah sambil berbisnis. Tapi biarlah toh aku nggak bisa maksa orang tuanya. Sebenernya banyak orang-orang di sekitarku yang menurutku secara materi jauh lebih mampu untuk mengurusi anak-anak seperti mereka. Yang aku lihat cuman berumah gedong layaknya apartement, dan gonta-ganti mobil mewah, tanpa sadar dengan lingkungan di luar.Sering aku berfikir “Apa sich tujuan hidup ini….?”

 Dedicated to:

My Prince: Ichsan Muhammad Fachreza

My Princess : Karunia Affifa Khairunnisa

-Dhita and Iffah(No photo), Sabar……belajar…belajar…dan teruslah belajar

#mohon maaf atas tag dan trackback-nya apabila tidak berkenan.

21 Tanggapan

  1. cep….acepppp…. kena peran jelek lagiiiiii😦
    *cari anak perempuan ah yg bisa dipacarin

  2. mas… kayaknya harus dibicarakan perlahan-lahan deh, menurutku sih.. ini menurutku yah walau kejujuran itu kadang menyakitkan tapi lebih baik dari pada kebohongan.. sayah jadi ingat bahwa setiap kebohongan kecil akan menambah kebohongan-kebohongan lain… moga-moga kebohongan lain ini tidak diikuti sampai dhita dewasa…
    sayah salut dengan gaya mas liexs yg mampu berpikir jernih untuk menerima anak wanita… yah kalo prasangka lain adalah sebuah hal biasa dijaman sekarang ini kali ya, kebaikan itu langka sampai untuk berbuat baik sajah kita harus mematikan telinga dan mata dari gunjingan bahkan pujian…

    nice posting….

  3. Mungkin untuk biaya sekolahnya aku masih mampu. Tetapi anak yang sudah masuk bangku SMU adalah sudah menginjak dewasa, nah ini mungkin akan jadi cobaan berat bagiku. Aku tidak mau dianggap ada pamrih dengan anak SMU oleh orang-orang sekitarku. Cuek sich cuek, tapi………

    You got the point…..🙂
    Setitik kebaikan akan datang bersamaan dengan sekarung cobaan
    mungkin bagi orang lain pikiran seperti yg mas pikirkan mungkin ada, tapi ga semuanya jga, aku doakan aja mas Liexs bisa kuat menghadapi yang sekarung itu…. skarang hanya kekuatan mas LIex dan waktu yg akan menentukan hal itu mas…
    moga kuat menghadapi semua ini, dan moga2 ditha dapat menjadi orang yg berguna dikemudia hari…

  4. wah denmase almas always pertamaxxx. pdhal di maluku jam brp neh.jgn2 punya ajian mata bandeng.thanks,ngejawab pake hp,jadi banyak sinkt.

  5. 2: Jam 2.30 hehehhe ajiannya diasah sejak lama makanya jadi mahir skarang… yups santai aja lagi. monitornya jadi dikreditin ya sampe sinkat2 gitu
    wakakakkakkaka:mrgreen:

  6. Postingan yang bagus Oom…

    Masalah kebohongan itu memang susah…
    Bagaimanapun Mas Liex gak bisa selamanya berbohong kan? Tapi yang lebih penting adalah sudah siapkah Dhifa untuk menerima fakta yang ada?
    Jika kira2 dia sudah siap dan bisa menerima kenyataan maka tidak ada salahnya jujur. Tapi bagaimanapun juga semua ada konsekuensinya

  7. You got the point…..🙂
    “Setitik kebaikan akan datang bersamaan dengan sekarung cobaan”
    mungkin bagi orang lain pikiran seperti yg mas pikirkan mungkin ada, tapi ga semuanya jga, aku doakan aja mas Liexs bisa kuat menghadapi yang sekarung itu…. skarang hanya kekuatan mas LIex dan waktu yg akan menentukan hal itu mas…
    moga kuat menghadapi semua ini, dan moga2 ditha dapat menjadi orang yg berguna dikemudia hari…

    almaaaaaaa…. kaw membuatku terkagum-kagum
    tumben bahasamu begitu dalem dan menyentuh (ehm..ehm)
    tapi aq setuju banget ma kata2 alma.
    keep fight mas liks (ini baru kakakku😉😉 )

    *aq nga komplain ma peran kali ini*

  8. halah koment ku koq jadi anonim..😦

  9. halah salah lagi… piye iki..
    kompie ku lemot
    mohon maaf mas

  10. dapat peran lagi….
    honor..honor …mana?

  11. dapat peran lagi….
    honor..honor …mana?

  12. “Cuek sich cuek, tapi kalau kebangeten bisa bikin adrenalinku bergerak cepat dan bisa-bisa tanpa basa-basi, Bruak….ploxkk..ploxxk.”

    Melok2 kapan ngantemin orang lagi???🙂

    Begitulah kadang masyarakat sekitar kita selalu berprasangka buruk dengan apa yang telah kita lakukan . n begitu senangnya membicarakan keburukan bukan kebaikan .

    Dan masalah kebohongan . Ngak semua masalah harus dikatakan dengan jujur yg malah kadang membuat masalah baru .

    Banyak juga komenku…terus mana tehnya..???

  13. iya, ya jadi repot gitu eh. Mungkin ini yang di sebut kebohongan akan memancing datangnya kebohongan yang lain.😀

  14. 2:alams 1-4
    Iya memang tidak selamanya aku berbohong. Aku juga masih bingung neh cari waktu yang tepat. BTW aku dah mau tdr jadi cm pake hp.

    2:Om deking
    Thanks selebblogger sudi mampir. Iya suatu saat pasti aku berkata yang sejujurnya, hanya belum ada waktu yang tepat Mas.

    2:may 7-9
    Thanks may atas support-nya. Iya mudah-mudahan semuanya berjalan lancar. Dan mudah-mudahan menjelang Lebaran besok, aku bisa nambah santunan buat 1 anak lagi, soalnya yang satunya udah punya bapak.
    2:regsa 10-12
    Thanks Mas, tapi suatu saat ketidak jujuran itu harus diluruskan. Honornya Ntar dapet THR.
    2:danalingga
    “Mungkin ini yang di sebut kebohongan akan memancing datangnya kebohongan yang lain”
    Benar Mas, satu kebohongan akan disusul dengan tujuh kebohongan lain. Repot juga jhe.

  15. mas liex, tolong donk kasih tahu rahasia GPRS nya
    aku dah coba mentari gprs gagal

    pls ya
    aku tunggu lho

  16. via email aja Mas liex, HP nya mas Liex brapa to?
    Pls
    thx sebelumnya

  17. anonim sapa yah?

  18. mas info ttg GPRS yg gratis saya tunggu lho

  19. #almas
    udah mandi?

  20. #regsa
    mo mandiin???
    wakakkakakakakaka

  21. 2:diono
    Dulu saya pake GPRS/3G Mas dan kartu saya memang kartu error lha banyak gratisnya.
    Coba kalau deket hotspot, pesen antena penyadap ajha, bisa radius 500 meter lho.(ngajarain nyolong neh)
    2:regsa+almas
    Weehh kalian berdua emang serasi. kekekekekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: