Melihat ke depan jauh lebih penting daripada menoleh ke belakang

Ditemani segelas susu jahe hangat, tiba-tiba saja jari jemari ini seolah ada yang menuntun untuk kembali menekan tombol power di Laptop membuka pintu rumah lama.

Yaaach….blog  ini kadang tidak terurus, hanya sekali waktu saja aku menyambangi ketika aku sedang sendiri.

Blog yang merupakan rumah keduaku inilah yang selalu setia menemani ketika aku terhenyak dari hybernasi panjang dan susah untuk memulainya kembali.

Melihat ke depan jauh lebih baik daripada menoleh ke belakang.

Rangkain kata-kata sederhana namun mengandung arti yang sangat dalam dan bermanfaat kalau kita bisa menterjemahkan dengan kata-kata yang bijak.

Kehidupan…..tidak bisa terlepas dari tiga hal pokok yang selalu menyertainya.

KEMARIN, HARI INI, dan ESOK.

Ketiga hal tersebut selalu melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila kita mengartikan huruf “O” adalah sebagai “opportunity” atau kesempatan, maka tidak ada opportunity di hari kemarin (yesterday), tetapi hanya ada satu kesempatan pada hari ini (today), dan ada 3 lagi kesempatan di hari esok (tomorrow).

Dengan kata lain, melihat ke belakang atau ke masa lalu adalah hal yang sia-sia, sebab tidak ada manfaatnya.

Masa lalu tidak akan pernah bisa kita rubah. Tetapi memperbaiki diri dan menggunakan kesempatan yang ada pada hari ini adalah hal yang lebih baik. Yang jauh lebih baik dan jauh lebih bijaksana adalah menciptakan kesempatan untuk hari esok, karena di situ terbentang sangat banyak kesempatan untuk melakukan suatu KEBENARAN, dan  KEBAIKAN yang akan menciptakan MANFAAT.

Tiga untaian kata yang kembali mempunyai arti yang sangat luas. Tiga kata itulah resep yang akan membuat orang bisa hidup dengan bijaksana. Tiga kata yang merupakan filter kehidupan.

Filter pertama adalah KEBENARAN. Dalam kehidupan kita, haruslah yakin bahwa apa yang kita fikirkan, kita katakan, dan kita lakukan adalah sesuatu yang benar. Jika ada sedikit saja yang diragukan kebenarannya, lebih baik kita tidak terlibat di dalamnya.

Filter kedua adalah KEBAIKAN. Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah baik dan membawa kebaikan. Karena kebenaran saja tidak cukup, tetapi kebenaran itu harus dikembangkan agar bisa membawa kebaikan bagi orang-orang yang mengamalkannya.

Filter ketiga adalah MANFAAT. Apapun yang kita katakan atau kita perbuat haruslah bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Segala hal yang tidak berguna harus dibuang jauh-jauh dari hidup kita agar tidak mengambat pertumbuhan kualitas kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita.

Jika kita bisa melaksanakan ketika filter kehidupan tersebut, maka seburuk apapun peristiwa yang kita alami di masa lalu, atau bagaimanapun sulitnya situasi yang kita hadapi saat ini, tidak akan membuat kita jatuh tergeletak.

Mungkin kita akan berkata “Saya punya banyak kelemahan dan banyak keterbatasan”. Itulah suatu kebenaran, namun jadikanlah keterbatasan itu menjadi kreativitas, dan kelemahan itu akan menjadikan ketergantungan sepenuhnya kepada yang Maha Kuasa.

Sebab kebenaran akan tetap bersinar meskipun teraniaya dan tidak populer. Kebenaran tidak perlu dibela karena dia mampu membela dirinya sendiri. Kebaikan akan tetap bernilai positif meskipun ada orang yang mencoba menodainya dengan motivasi yang jahat. Kalau yang kita lakukan itu bermanfaat, maka pasti ada lebih banyak orang yang diberkati daripada segelintir orang yang tidak menghargainya.

Semua duka di masa lalu bisa menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga supaya kita menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana, agar kita selalu melakukan kebenaran, membawa kebaikan, dan membawa manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya, semua pengalaman menyenangkan yang kita nikmati di masa lalu, harus bisa membuat kita semakin bersyukur, dan semakin rendah hati di saat ini, dan masa yang akan datang, karena sesungguhnya semua itu semata-mata adalah anugerah dari Sang Pencipta untuk makhluk ciptaan-Nya.

happy b’day my Corporate…….

 

 

 

 

Iklan

KISAH PENEBANG POHON

Dalam suatu kisah diceritakan ada seorang saudagar kayu yang membuka lamaran pekerjaan seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena saudagar itu menjanjikan upah yang cukup besar dan berada dalam kondisi kerja yang sangat kondusif, adalah seorang yang melamar untuk menjadi pekerja penebang pohon itu, dan bertekat untuk bekerja sekeras mungkin.

Pada saat mulai bekerja, saudagar itu memberikan sebuah kapak kepada pekerja dan menunjukkan daerah kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si pekerja penebang pohon tersebut.

Pada hari pertama bekerja, dia berhasil menebang pohon sebanyak 10 batang pohon, melebihi target dari saudagar yang menargetkan 8 pohon perhari. Pada sore harinya saudagar mendapat laporan pekerjaan itu, sang saudagar terkesan dan memberikan pujian dengan tulus.

“Hasil kerja kamu sungguh luar biasa! Saya sangat terkesan dan kagum dengan kemampuanmu dalam menebang pohon itu. Belum pernah ada pekerja saya yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”Sangat termotivasi oleh pujian saudagar itu, keesokan harinya si pekerja mulai kembali menabang pohon dan bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya mampu menebang 8 batang pohon. Di hari ke tiga dia bekerja lebih keras lahi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan.

Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil ditebang oleh pekerja itu. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir pekerja itu merasa malu dan putus asa.

Dengan kepala tertunduk, dia menghadap sang saudagar, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai, bahkan semakin hari semakin mengecewakan, dan mengeluh apa yang telah terjadi. Sang saudagar menyimak dan bertanya kepadanya. “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari harus menebang pohon dari pagi sampai sore hari dengan sekuat tenaga,” kata si penebang pohon. “Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa.

Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.

Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang saudagar. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang pohon berlalu dari Hadapan saudagar itu dan mulai mengasah kapak. Istirahat bukan berarti berhenti. Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Sama seperti si penebang pohon, kitapun setiap hari, dari pagi sampai malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola.

Sibuk, sibuk, sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untul menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual.

Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi lebih dinamis, berwawasan dan selalu baru.

Kisah 3 kaleng Pocari Sweat

Ada 3 Kaleng Pocari Sweat, yang ketiga-tiganya diproduksi di salah satu Pabrik di Tangerang. Tiga Pocari Sweat tersebut hanya sebagai wakil dari ribuan produk-produk yang lain.

Suatu hari, tibalah saatnya 3 kaleng Pocari Sweat Tersebut diangkut oleh sebuah truk kontainer, yang datang ke pabrik tersebut, untuk didistribusikan. Ketiga Pocari Sweat tersebut ternyata menuju ke tempat yang berbeda. Pemberhentian pertama adalah di Alfamart. Pocari Sweat pertama ternyata turun di tempat ini, dan dipajang bersama dengan kaleng-kaleng pocari sweat yang lainnya yang telah berada di situ sebelumnya, dan diberi banderol harga Rp. 6.000,-

Pemberhentian berikutnya adalah di pusat perbelanjaan Mall ternama. Di situlah kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut diturunkan dan diletakkan dalam lemari pendingin mall tersebut, agar lebih segar dan dingin serta dijual dengan harga Rp. 9.000,-

Pemberhentian terakhir adalah di sebuah Hotel berbintang 5 di Kawasan Karawaci yang sangat mewah. Kaleng ke tiga Pocari Sweat tersebut diturunkan. Namun kaleng ini tidak ditempatkan di dalam rak yang biasa ataupun dipajang di tempat umum.

Kaleng ini ditempatkan di sebuah kulkas kecil yang disebut minibar di setiap kamar. Dan para tamu yang menginap di situ bebas mengambil dan menikmatinya, tentunya dengan konsekwensi membayar dengan harga Rp. 30.000,- per kaleng.

Naah………..dari kisah 3 kaleng Pocari Sweat tersebut ternyata ketiga-tiganya laku keras.

Namun………apa yang menjadi pertanyaan selanjutnya….?

Mengapa ketiga kaleng Pocari Sweat tersebut memiliki harga yang berbeda satu dengan yang lainnya? padahal diproduksi dari pabrik yang sama di Tangerang, diangkut menggunakan truk kontainer yang sama, dan bahkan rasa dari ketiga kaleng Pocari Sweat tersebut adalah sama….!

Lingkungan yang membedakan nilai dari ketiga kaleng Pocari tersebut.

Lingkungan berbicara tentang Relationship. Apabila kita berada di suatu lingkungan yang bisa mengeluarkan sesuatu yang terbaik dari diri kita, maka kita akan menjadi cemerlang.

Akan tetapi kalau kita berada di tempat yang membuat diri kita menjadi kerdil, egois, maka lingkungan akan membuat diri kita menjadi kerdil.

Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama, ditambah lingkungan yang berbeda, hasilnya Nilai yang berbeda pula.

jadi………….termasuk yang manakah diri anda sekarang ini………….?

Pertanyaan selanjutnya….siapakah yang menentukan akan berada dimana kaleng Pocari Sweat(baca:anda) …agar bisa mendapatkan tempat dengan nilai atau harga yang lebih dari yang lain….?

Hareee  geneee………..ternyata kecerdasan saja tidak cukup kawannnn……….

ONE STEP AHEAD

QUOTE OF THE DAY.

Every morning you are handed 24 golden hours. They are one of the few things in this world that you get free of charge. If you had all the money in the world, you couldn’t buy an extra hour. What will you do with this priceless treasure? Remember, you must use it, as it is given only once. Once wasted you cannot get it back.s